Wednesday, April 11, 2012

tentang mereka yang LUAR BIASA


Setiap kali pulang dan turun di halte buswae Pademangan, pasti gue ketemu sama 4 orang “luarbiasa” (menurut gue). Entah kenapa tiba-tiba hati gue tersentak buat ceritain kisah ini disini, karena mungkin buat gue, mereka itu sumber inspirasi yang luarbiasa yang bikin gue harusnya lebih bersyukur sama semua yang gue miiki, apapun itu bahkan semua yang gue miliki secara sempurna.
                Entah apa yang membuatku selalu tersentak dan selalu tersenyum tapi hati sangatlah menangis saat harus melihat mereka yang “luarbiasa” itu. Yupz! Mungkin buat orang sekitar mereka, mereka tidak berguna bahkan mungkin mereka adalah seorang yang menyusahkan sekeliling. Tapi tidak denganku, aku seolah belajar banyak dari mereka yang buatku sangat “luarbisa”
                Iya! Betul sekali! Mereka Tuna Netra. Entah apa yang kupikirkan saat melihat mereka hingga akhirnya aku terkagum dengan mereka. Ditengah keterbatasan mereka, mereka punya satu hal yang mungkin ga kita mliki sebagai orang normal, yaitu “KETULUSAN” yang akhirnya menimbulkan rasa KEPERCAYAAN yang luar biasa antar sesama mereka.
                Lagi-lagi tadi ku melihat mereka, mereka begitu mandiri seolah tidak ingin menjadi beban untuk sekitarnya. Yupz! Mereka PERCAYA seutuhnya pada teman yang notabene sama dengan mereka (Tuna Netra) juga. Berjalan beriringan bersama, yang depan berjalan seolah sebagai penunjuk jalan yang mahir, sedangkan dibelakangnya saling memegang pundak yang mungkin artinya “aku percaya padamu”. Sungguh tersentak mataku saat melihat bergitu ketulusan yang mereka pertontonkan.
                Tersenyum mereka sambil sebentar bercanda satu dengan yang lain. Meski dalam keadaan “sibuk”. Bagaimana tidak sibuk mereka jika tangan kiri mereka memegang pundak teman didepannya sedangkan tangan kanan mereka sudah terletak tongkat andalan mereka yang mungkin adalah “sahabat” paling setia yang mereka miliki. Bahkan tidak cukup hanya itu saja, mereka juga membawa tas selempang yang mungkin saja berat isinya, dan dianatar mereka pun ada juga yang tidak hanya membawa tas selempangnya tapi ditambah tas jinjing yang saya tau benar itu sangatlah merepotkan.
                Ya! Lagi-lagi saya harus malu pada mereka yang terlihat sangatlah mandiri bahkan sepertinya tidak pernah merasa kecewa dengan keadaan yang mereka alami atau miliki itu. Sungguh rasanya malu hati ini melihat kegigihan mereka yang sangatlah luarbiasa.
                Ya! Mungkin kita tau bagaimana transportasi di negara tercinta kita ini, khususnya ibukota negara ini. Sudah! Saya pun tidak ingin membahas ataupun mengkritik “karya” pemerintahan kita, karena bukan itulah point ataupun topik yang mau saya bahas melainkan “mereka yang luar biasa” lah yang sebenarnya topik pembahasan saya. Dikala minimnya transportasi untuk kalangan mereka, yang terkadang mereka tidak dianggap bahkan tidak dipedulikan itu, mereka masih ingindan tetap setia menggunakan fasilitas “karya” pemerintah.
                Fasilitas yang memang dirancang bukan untuk (tidak ada failitas) mereka ini, mereka pergunakan dengan baik. “Mereka pake busway”!!! itu tandanya mereka harus berdesak-desakan, belum lagi mereka juga harus (mungkin) berpisah dengan “teman”nya, ataupun mereka harus berdiri ditenagh-tengah orang yang “utuh” seperti kita. TANPA MENGELUH!! Mereka tetap tersenyum dan mungkin dalam hati menangis dengan keadaan itu, tapi mereka tetap senyum.
                Senyum! Itu yang ku pelajari kemudian dari mereka. Ternyata senyum itu tidak hanya kita keluarkan saat bahagia, senang, sukacita atau apalah itu namanya, melainkan DALAM SETIAP KONDISIpun kita harus tetap TERSENYUM.
                Tulus! Yups! Itu hal kedua yang ku dapatkan dari seraut Senyum mereka. Aku melihat ada ketulusan diantara mereka yang terlihat dari betapa solid nya mereka satu dengan yang lainnya. Mereka begitu tulus untuk akhirnya menimbulkan rasa PERCAYA yang mungkin buat kita yang “utuh” itu tidak masuk diakal. Mereka percayakan langkah kaki mereka kepada teman yang notabenenya sama dengan mereka. Mungkin itulah kelebihan mereka yang tidak kita miliki sebagai seorang yang “utuh”.
                Betapa tidak tau dirinya kita jika kita tetap saja tidak peduli dengan apa yang telah kita miliki, pada apa yang sedang kita jalanin, atau tidak bersyukur dengan apa yang sdah kita dapatkan secara Cuma-Cuma (GRATIS!). Akupun akhirnya belajar pada mereka yang selalu TULUS dan TerSENYUM serta berSYUKUR (dimataku) dari mereka. Karena merekalah yang seharusnya menjadi contoh untuk kita, bukan kita yang harus jadi contoh untuk mereka.
                Pepatah bijak mengatakan “kita harus belajar mengenal dunia pada seorang tuna netra, belajar mendengarkan dari seorang tuna rungu, belajar bersyukur pada seorang yang tuna wicara. Agar kita tau betapa berharganya kita bahkan berntungnya kita dilimpahkan semua keindahan yang dapat kita rasakan kehadirannya

Friday, April 6, 2012

My Reicarnation Of the New Day (sinopsis)


My Reincarnation Of The New Day

Inilah kisahku bersama “sahabat” baruku, LUPUS. Dulu aku adalah seorang gadis periang, energik serta penuh dengan semangat yang tinggi dalam mengejar bahkan mencapai cita-citaku untuk menjadi seorang BALERINA. Suatu hari kondisiku mulai melemah, aku tak dapat berbuat apapun, bahkan rasanya aku akan segera mencapai ajalku. Ya, Lupus! Aku adalah seorang ODAPUS saat ini. Sulit bahkan tak pernah terbayangkan penyakit apa ini? Apa salahku?.
LUPUS yang ku derita adalah Lupus yang menyerang persendian pada tulang ku. Bagaikan boomerang besar buatku hidup dengan “sahabat baru” ku ini. Aku harus merelakan cita-citaku terbang bersama sang angin bahkan tidak hanya itu saja, orang-orang didekatkupun mulai menjauh seiring dengan perubahan fisikku yang tak lagi mempesona. Ya, aku dijauhi bahkan aku dikucilkan. Itu lah mungkin alasan bagiku untuk  “menjemput ajal” ku saja.
Namun, dikala keterpurukan tubuh, jiwa bahkan aku tak lagi berdaya aku menemukan SAUDARA-SAUDARA baruku. Aku bertemu dengan sebuah Yayasan yang telah sedikit banyak bahkan mungkin tanpa disadari oleh merekapun, hidup mereka yang tidak lainnya dari aku (seorang ODAPUS) telah memberika semangat baru dan dari mereka aku mendapatkan HIDUPKU KEMBALI.
Aku kembali tersenyum walau saat ini aku hidup juga bersama “sahabat”ku dalam satu tubuh, Barulah aku sadari, AKU TAK SEORANG DIRI!. Ada saudara-saudaraku sesama ODAPUS yang telah menjadi SEMANGAT PAGI bagiku. Aku merasakan sukacita yang tak dapat ternilaikan, aku teramat bersuka bersama mereka (YLI). Bahkan di YLI lah aku menemukan seorang yang dapat menerimaku apa adanya, yang mampu menjaga bahkan melindungiku yang lemah ini. He is my special oneJ.