Setiap kali pulang dan turun di halte buswae Pademangan,
pasti gue ketemu sama 4 orang “luarbiasa” (menurut gue). Entah kenapa tiba-tiba
hati gue tersentak buat ceritain kisah ini disini, karena mungkin buat gue,
mereka itu sumber inspirasi yang luarbiasa yang bikin gue harusnya lebih
bersyukur sama semua yang gue miiki, apapun itu bahkan semua yang gue miliki
secara sempurna.
Entah apa yang membuatku selalu
tersentak dan selalu tersenyum tapi hati sangatlah menangis saat harus melihat
mereka yang “luarbiasa” itu. Yupz! Mungkin buat orang sekitar mereka, mereka
tidak berguna bahkan mungkin mereka adalah seorang yang menyusahkan sekeliling.
Tapi tidak denganku, aku seolah belajar banyak dari mereka yang buatku sangat “luarbisa”
Iya! Betul sekali! Mereka Tuna
Netra. Entah apa yang kupikirkan saat melihat mereka hingga akhirnya aku
terkagum dengan mereka. Ditengah keterbatasan mereka, mereka punya satu hal
yang mungkin ga kita mliki sebagai orang normal, yaitu “KETULUSAN” yang
akhirnya menimbulkan rasa KEPERCAYAAN yang luar biasa antar sesama mereka.
Lagi-lagi tadi ku melihat
mereka, mereka begitu mandiri seolah tidak ingin menjadi beban untuk
sekitarnya. Yupz! Mereka PERCAYA seutuhnya pada teman yang notabene sama dengan
mereka (Tuna Netra) juga. Berjalan beriringan bersama, yang depan berjalan
seolah sebagai penunjuk jalan yang mahir, sedangkan dibelakangnya saling
memegang pundak yang mungkin artinya “aku percaya padamu”. Sungguh tersentak
mataku saat melihat bergitu ketulusan yang mereka pertontonkan.
Tersenyum mereka sambil sebentar
bercanda satu dengan yang lain. Meski dalam keadaan “sibuk”. Bagaimana tidak
sibuk mereka jika tangan kiri mereka memegang pundak teman didepannya sedangkan
tangan kanan mereka sudah terletak tongkat andalan mereka yang mungkin adalah “sahabat”
paling setia yang mereka miliki. Bahkan tidak cukup hanya itu saja, mereka juga
membawa tas selempang yang mungkin saja berat isinya, dan dianatar mereka pun
ada juga yang tidak hanya membawa tas selempangnya tapi ditambah tas jinjing
yang saya tau benar itu sangatlah merepotkan.
Ya! Lagi-lagi saya harus malu
pada mereka yang terlihat sangatlah mandiri bahkan sepertinya tidak pernah
merasa kecewa dengan keadaan yang mereka alami atau miliki itu. Sungguh rasanya
malu hati ini melihat kegigihan mereka yang sangatlah luarbiasa.
Ya! Mungkin kita tau bagaimana
transportasi di negara tercinta kita ini, khususnya ibukota negara ini. Sudah! Saya
pun tidak ingin membahas ataupun mengkritik “karya” pemerintahan kita, karena
bukan itulah point ataupun topik yang mau saya bahas melainkan “mereka yang
luar biasa” lah yang sebenarnya topik pembahasan saya. Dikala minimnya
transportasi untuk kalangan mereka, yang terkadang mereka tidak dianggap bahkan
tidak dipedulikan itu, mereka masih ingindan tetap setia menggunakan fasilitas “karya”
pemerintah.
Fasilitas yang memang dirancang
bukan untuk (tidak ada failitas) mereka ini, mereka pergunakan dengan baik. “Mereka pake busway”!!! itu tandanya
mereka harus berdesak-desakan, belum lagi mereka juga harus (mungkin) berpisah
dengan “teman”nya, ataupun mereka harus berdiri ditenagh-tengah orang yang “utuh”
seperti kita. TANPA MENGELUH!! Mereka tetap tersenyum dan mungkin dalam hati
menangis dengan keadaan itu, tapi mereka tetap senyum.
Senyum! Itu yang ku pelajari
kemudian dari mereka. Ternyata senyum itu tidak hanya kita keluarkan saat
bahagia, senang, sukacita atau apalah itu namanya, melainkan DALAM SETIAP
KONDISIpun kita harus tetap TERSENYUM.
Tulus! Yups! Itu hal kedua yang ku
dapatkan dari seraut Senyum mereka. Aku melihat ada ketulusan diantara mereka
yang terlihat dari betapa solid nya
mereka satu dengan yang lainnya. Mereka begitu tulus untuk akhirnya menimbulkan
rasa PERCAYA yang mungkin buat kita yang “utuh” itu tidak masuk diakal. Mereka percayakan
langkah kaki mereka kepada teman yang notabenenya sama dengan mereka. Mungkin itulah
kelebihan mereka yang tidak kita miliki sebagai seorang yang “utuh”.
Betapa tidak tau dirinya kita
jika kita tetap saja tidak peduli dengan apa yang telah kita miliki, pada apa
yang sedang kita jalanin, atau tidak bersyukur dengan apa yang sdah kita
dapatkan secara Cuma-Cuma (GRATIS!). Akupun akhirnya belajar pada mereka yang
selalu TULUS dan TerSENYUM serta berSYUKUR (dimataku) dari mereka. Karena merekalah
yang seharusnya menjadi contoh untuk kita, bukan kita yang harus jadi contoh
untuk mereka.
Pepatah bijak mengatakan “kita
harus belajar mengenal dunia pada seorang tuna netra, belajar mendengarkan dari
seorang tuna rungu, belajar bersyukur pada seorang yang tuna wicara. Agar kita
tau betapa berharganya kita bahkan berntungnya kita dilimpahkan semua keindahan
yang dapat kita rasakan kehadirannya”
No comments:
Post a Comment